Jilid Skripsi logo Jilid SkripsiNaskah rapi sampai sidang
Games

Jelajahi Dunia Game Online yang Penuh Perpustakaan Kuno

Di meja percetakan dekat kampus di Malang, saya terbiasa memegang buku sebelum membacanya. Telapak tangan langsung tahu apakah kertasnya HVS 70 gram atau 80 gram, apakah lem punggungnya sudah kering sempurna, apakah lipatan sampulnya akan...

Ilustrasi untuk artikel Jelajahi Dunia Game Online yang Penuh Perpustakaan Kuno

Di meja percetakan dekat kampus di Malang, saya terbiasa memegang buku sebelum membacanya. Telapak tangan langsung tahu apakah kertasnya HVS 70 gram atau 80 gram, apakah lem punggungnya sudah kering sempurna, apakah lipatan sampulnya akan retak dalam sebulan. Karena kebiasaan itu, saya awalnya curiga pada perpustakaan di dalam video game. Buku yang tidak bisa disentuh, rak yang tidak berdebu, halaman yang tidak menguning. Butuh seorang mahasiswa yang menunggu skripsinya dijilid untuk mengubah pendapat saya.

Ia menunggu sekitar empat puluh menit sambil memainkan Final Fantasy XIV di laptop. Ketika saya melirik layarnya, karakternya sedang berjalan di antara rak rak raksasa yang menjulang sampai langit langit, dengan buku buku yang beterbangan dan menyerang. "Ini The Great Gubal Library, Bu," katanya. Sejak hari itu saya mulai memperhatikan bagaimana game online membangun ruang baca, dan ternyata banyak di antaranya dibuat dengan perhatian yang tidak kalah dari tukang jilid yang teliti.

Perpustakaan sebagai ruang yang dijelajahi pemain

Dalam kebanyakan game, perpustakaan bukan latar belakang. Ia adalah tempat yang harus dimasuki, dilewati, kadang dilawan. The Great Gubal Library di Final Fantasy XIV adalah dungeon dari ekspansi Heavensward, dan pemain menembus lantai demi lantai arsip kuno milik kota Sharlayan yang ditinggalkan. Bosnya pun bukan monster biasa, melainkan penjaga ilmu dan buku hidup. Perpustakaan itu begitu disukai pemain sampai dibuat versi Hard, dengan lantai yang lebih dalam dan rahasia yang lebih gelap.

Dalam sebuah sesi main bersama tim, pemain tidak sekadar mengagumi rak. Mereka harus bergerak cepat, membaca mekanik pertarungan, dan menghindari halaman yang terbang. Mahasiswa yang menunggu skripsinya tadi bilang, setelah lima kali menyelesaikan dungeon itu, ia jadi ingin tahu bagaimana perpustakaan nyata menyusun koleksinya. Keingintahuan semacam ini, menurut saya, lebih berharga dari sekadar nostalgia pada buku.

Elden Ring melakukan hal serupa dengan cara yang lebih muram. Raya Lucaria Grand Library adalah arena pertarungan melawan Rennala, Queen of the Full Moon, di tengah rak yang melayang dan murid akademi yang memujanya. Perpustakaan di sini terasa seperti tempat ilmu yang membusuk karena ditinggalkan sang pemimpinnya. Siapa pun yang pernah melihat gudang arsip fakultas yang tidak terurus akan paham perasaan itu.

Penjaga buku yang galak

Salah satu tokoh yang paling saya sukai justru dari game yang dimainkan sendirian. Di The Elder Scrolls V: Skyrim, College of Winterhold punya perpustakaan bernama Arcanaeum, dijaga oleh seorang orc bernama Urag gro-Shub. Ia pustakawan yang keras dan protektif, mengingatkan pemain agar tidak merusak bukunya. Kalau pemain membawa buku langka, ia mau membelinya untuk koleksi.

Saya tertawa waktu pertama kali mendengar dialognya, karena itu persis sikap saya pada hari terakhir tenggat pengumpulan skripsi. Mahasiswa yang menaruh gelas kopi di atas tumpukan naskah hardcover akan mendapat tatapan yang sama dari saya. Sampul hardcover dengan laminasi doff terlihat kokoh, tapi satu cincin air di permukaannya tidak bisa dihilangkan, dan jurusan tertentu akan menolak naskah yang sampulnya bernoda.

Bagi saya, Urag adalah pengingat bahwa buku perlu penjaga. Game menghadirkan sosok itu dengan cara yang membuat pemain menghormatinya, bukan sekadar menganggapnya penghalang.

Membaca di dalam game, sungguhan

Ada anggapan umum bahwa game online menjauhkan anak muda dari bacaan. Saya tidak sepenuhnya setuju, setidaknya setelah melihat beberapa contoh berikut. Beberapa game justru menanam buku yang benar benar bisa dibaca, lengkap dengan halaman yang dibalik.

  • The Elder Scrolls Online punya ratusan buku lore yang bisa dikumpulkan pemain, tersusun dalam koleksi bernama Shalidor's Library dan Eidetic Memory. Seorang pelanggan saya mengaku mengumpulkan semuanya demi pencapaian, dan tanpa sadar membaca lebih banyak halaman daripada buku wajib semester itu.
  • Hogwarts Legacy menempatkan Perpustakaan Hogwarts sebagai salah satu lokasi penting, termasuk misi menyusup ke Restricted Section pada malam hari. Rak, tangga, dan lampu bacanya dibuat dengan detail yang membuat mahasiswa betah memutarinya.
  • Baldur's Gate yang pertama, terbitan 1998, memulai cerita di Candlekeep, benteng perpustakaan tempat tokoh utama dibesarkan. Untuk masuk ke sana, seorang pengunjung harus menyerahkan sebuah buku sebagai syarat. Di Baldur's Gate 3, nama Candlekeep masih sering disebut sebagai pusat ilmu Sword Coast.

Syarat masuk Candlekeep itu selalu membuat saya tersenyum. Bayangkan perpustakaan kampus yang hanya menerima pengunjung yang membawa satu buku sumbangan. Rak koleksi tugas akhir pasti akan lebih cepat penuh.

Apa yang luput dari perpustakaan virtual

Meski kagum, saya tetap orang percetakan. Ada hal yang tidak pernah berhasil ditiru game, dan justru itulah yang membuat buku cetak tetap penting bagi mahasiswa tingkat akhir.

Pertama, berat. Skripsi setebal 112 halaman dengan kertas 80 gram dan sampul hardcover terasa mantap di tangan, kira kira setengah kilo. Buku di game tidak punya berat. Mengangkat tome kuno dari rak Arcanaeum sama ringannya dengan mengangkat sepotong roti. Kedua, punggung buku. Di percetakan, saya selalu memeriksa apakah tulisan di punggung skripsi sejajar dan terbaca dari rak. Di kebanyakan game, punggung buku hanyalah tekstur berulang, sering tanpa judul yang bisa dibaca. Ketiga, bau. Yang ini mustahil, dan saya rasa memang lebih baik begitu, karena tidak semua perpustakaan kuno berbau menyenangkan.

Kalau kamu sedang memilih jenis sampul untuk naskahmu, catatan tentang hardcover atau softcover membahas perbedaan itu dengan lebih rinci, termasuk kapan softcover justru lebih masuk akal.

Kebiasaan pemain yang terbawa ke meja cetak

Ada satu hal yang saya perhatikan selama beberapa tahun terakhir. Mahasiswa yang gemar menjelajah perpustakaan di game cenderung lebih rewel soal tampilan naskahnya, dalam arti yang baik. Mereka bertanya hal hal yang jarang ditanyakan orang lain. Apakah huruf emas di sampul bisa dibuat timbul? Apakah warna marun jurusan bisa dicocokkan dengan contoh sampul kakak tingkat? Bisakah punggung buku diberi garis tipis di atas dan bawah judul?

Seorang mahasiswa teknik informatika pernah membawa tangkapan layar dari Arcanaeum sebagai referensi. Ia ingin sampul hardcover hitamnya terasa "seperti tome di Skyrim". Tentu saja ketentuan fakultas tidak mengizinkan ornamen naga, tapi kami menemukan jalan tengah: kertas sampul dengan tekstur kulit jeruk dan huruf emas yang dicetak dengan teknik hot print. Hasilnya tetap sesuai pedoman, dan ia pulang dengan wajah puas.

Dari situ saya belajar bahwa rasa hormat pada buku bisa tumbuh dari mana saja, termasuk dari sesi main larut malam. Yang penting adalah rasa itu sampai ke benda nyata yang akan disimpan bertahun tahun. Satu saran praktis untuk pemain yang ingin naskahnya awet: minta lem panas jenis PUR kalau anggaran memungkinkan, karena lebih lentur dan tidak mudah retak saat buku dibuka lebar. Lalu simpan naskah berdiri tegak di rak, jangan ditumpuk mendatar di bawah barang berat.

Dari rak virtual ke rak jurusan

Saya pernah bertanya pada beberapa mahasiswa yang datang sambil membawa laptop berstiker game. Kenapa mereka tertarik pada perpustakaan di dalam game? Jawaban yang paling sering: karena di sana buku terasa seperti harta, bukan kewajiban. Mencari tome langka sama serunya dengan mengalahkan bos.

Saya kira ada pelajaran untuk kita yang mengurus buku di dunia nyata. Skripsi yang dijilid rapi, dengan punggung yang terbaca dan kertas yang tidak menggelombang, akan duduk di rak jurusan selama bertahun tahun. Mahasiswa angkatan berikutnya akan mengambilnya, membukanya, mungkin mengutipnya. Naskah itu adalah buku kuno kecil milik kampus, dan menjaganya tetap layak dibaca adalah bagian dari pekerjaan, sama seperti Urag menjaga Arcanaeum.

Sebelum naskahmu menyusul ke rak itu, luangkan waktu untuk memeriksa naskah sebelum dicetak. Dan kalau kamu ingin membaca tulisan lain tentang pemain dan buku, kumpulan artikel di kategori Games berisi sudut pandang dari penulis kami yang masih main hampir setiap malam, termasuk soal game santai untuk jeda revisi.

RK
Rania Kusumawardani

Rania bertahun tahun menjaga meja percetakan dekat kampus di Malang. Ia sudah melihat ratusan skripsi ditolak karena hal kecil seperti warna sampul atau urutan lembar pengesahan, dan menulis supaya itu tidak terjadi pada pembaca.

More posts by Rania

More in Games