Jilid Skripsi logo Jilid SkripsiNaskah rapi sampai sidang
Games

Cara Game Online Melatih Fokus Mahasiswa Saat Menyusun Skripsi

Bab tiga tesis saya selesai pada malam ketika saya kalah lima ronde beruntun di Valorant. Kedengarannya aneh, tapi justru dari kekalahan itu saya sadar sesuatu: selama empat puluh menit sesi main, saya tidak sekali pun membuka ponsel,...

Ilustrasi untuk artikel Cara Game Online Melatih Fokus Mahasiswa Saat Menyusun Skripsi

Bab tiga tesis saya selesai pada malam ketika saya kalah lima ronde beruntun di Valorant. Kedengarannya aneh, tapi justru dari kekalahan itu saya sadar sesuatu: selama empat puluh menit sesi main, saya tidak sekali pun membuka ponsel, tidak memeriksa grup kelas, tidak tergoda membuka tab lain. Sementara di depan dokumen Word, saya bisa berpindah jendela sebelas kali dalam setengah jam. Saya menghitungnya sungguhan, pakai catatan kecil di samping laptop. Jadi pertanyaannya bukan apakah game online merusak fokus, melainkan kenapa fokus itu muncul begitu mudah di dalam game dan begitu mahal di depan naskah.

Tulisan ini bukan pembelaan buta untuk main game. Ini catatan dari dua tahun menulis tesis pascasarjana sambil tetap login hampir tiap malam, lengkap dengan kebiasaan yang gagal dan yang ternyata berguna.

Apa yang sebenarnya dilatih sebuah game

Game kompetitif seperti Valorant atau Mobile Legends memaksa pemain menahan perhatian dalam jendela waktu yang jelas. Satu ronde Valorant punya batas waktu, satu pertandingan Mobile Legends biasanya rampung dalam lima belas sampai dua puluh menit. Selama jendela itu, otak tidak diberi pilihan untuk melamun. Kalau melamun, tim kalah, dan umpan baliknya langsung terasa.

Di sinilah bedanya dengan menulis skripsi. Naskah tidak pernah memberi umpan balik dalam hitungan detik. Paragraf yang buruk tidak menembak balik. Dosen pembimbing baru membalas dua minggu kemudian. Karena tidak ada konsekuensi instan, perhatian gampang bocor.

Yang saya pelajari dari game bukan kemampuan berkonsentrasi secara ajaib, melainkan cara game membangun struktur yang membuat konsentrasi terasa wajar. Ada batas waktu, ada tujuan kecil yang terukur, ada tanda selesai yang jelas. Tiga unsur itu bisa dipinjam.

Meminjam struktur ronde untuk sesi menulis

Setelah malam lima kekalahan tadi, saya mencoba memotong sesi menulis menjadi "ronde". Bukan teknik Pomodoro yang dua puluh lima menit itu, karena jujur saja, saya gagal memakainya selama satu semester penuh. Alarmnya terasa seperti gangguan, bukan penanda. Yang berhasil justru meniru format pertandingan yang memang saya mainkan.

Ini pembagian yang akhirnya bertahan:

Format gameDurasi kira kiraDipakai untuk tugas skripsi
Satu pertandingan Mobile Legends17 menitMenulis satu subbab pendek atau merapikan satu tabel hasil
Satu sesi kompetitif Valorant35 sampai 45 menitMenyusun argumen pembahasan yang butuh tiga sampai empat rujukan
Satu hari di Stardew Valleysekitar 13 menit waktu nyataMemeriksa daftar pustaka atau menyamakan format sitasi
Satu dungeon Final Fantasy XIV25 sampai 30 menitMembaca dan mencatat satu artikel jurnal dari awal sampai akhir

Angka di tabel itu bukan standar resmi, cuma catatan pribadi selama sekitar 140 sesi kerja. Intinya, setiap tugas punya "nama pertandingan" yang membuat saya tahu kapan harus mulai dan kapan boleh berhenti. Satu hari Stardew Valley terasa singkat karena memang dirancang begitu, dan memeriksa dua puluh entri daftar pustaka juga sebaiknya terasa singkat.

Kebiasaan yang gagal total

Supaya adil, ini daftar eksperimen yang tidak bekerja:

  • Main dulu "satu game" sebelum menulis. Satu game berubah jadi empat. Game kompetitif punya efek "sekali lagi" yang kuat, apalagi setelah kalah. Saya kehilangan rata rata 68 menit per malam selama tiga minggu sebelum sadar polanya.
  • Menulis sambil menunggu antrean pertandingan. Antrean Valorant kadang cuma semenit, kadang lima menit. Kalimat yang ditulis dalam jeda acak itu hampir selalu harus dihapus keesokan harinya.
  • Menjadikan game sebagai hadiah setelah target. Terdengar logis, tapi targetnya jadi ditulis asal cepat. Bab dua saya penuh paragraf tergesa yang akhirnya dicoret pembimbing.

Pelajarannya: game tidak boleh berdiri di depan pekerjaan sebagai pintu masuk, dan tidak boleh berdiri di belakangnya sebagai umpan. Posisi yang paling aman ternyata di jam yang terpisah jelas, misalnya setelah pukul 21.30, ketika jatah menulis hari itu sudah ditutup apa pun hasilnya.

Nasihat "berhenti main total" yang saya tolak

Hampir semua teman seangkatan dan satu dosen pernah menyarankan hal yang sama: hapus semua game sampai tesis beres. Saya sempat mencobanya selama sembilan hari di bulan keempat. Hasilnya, jumlah halaman yang saya tulis malah turun dari rata rata 2,6 halaman per hari menjadi 1,8.

Penjelasan saya sederhana. Waktu yang tadinya dipakai main tidak otomatis berubah menjadi waktu menulis. Ia berubah menjadi waktu menggulir media sosial, yang jauh lebih buruk karena tidak punya akhir. Sebuah pertandingan selesai. Linimasa tidak pernah selesai. Ketika game dihapus, yang hilang bukan gangguan, melainkan satu kegiatan santai yang punya batas tegas.

Ada juga soal identitas. Bagi banyak mahasiswa tingkat akhir, sesi main bareng teman adalah satu satunya tempat ia tidak ditanya "kapan sidang?". Mencabut itu tanpa pengganti sama saja menambah tekanan, dan tekanan bukan bahan bakar yang baik untuk menulis bab pembahasan.

Jadi saran saya kebalikannya: jangan hapus game, tapi hapus game yang tidak punya titik akhir. Untuk saya, itu berarti mencopot Genshin Impact dari laptop kerja karena event harian dan daftar komisinya selalu memberi alasan untuk login "sebentar". Valorant tetap ada, karena satu pertandingan punya skor akhir yang jelas.

Melatih fokus panjang lewat game yang lambat

Game cepat melatih perhatian intens tapi pendek. Skripsi butuh perhatian yang tahan lama, misalnya saat membaca ulang bab empat dari halaman pertama sampai terakhir untuk mencari inkonsistensi istilah. Untuk jenis fokus ini, saya justru terbantu oleh game yang lambat.

Dua yang paling terasa manfaatnya adalah Unpacking dan teka teki logika di The Witness. Unpacking meminta pemain menata barang ke dalam rumah baru, dan setiap benda punya tempat yang "benar" menurut cerita pemiliknya. Kebiasaan memperhatikan detail kecil itu mirip dengan menyisir naskah: margin yang meleset, nomor tabel yang lompat, spasi ganda di daftar isi. The Witness lain lagi. Satu panel bisa membuat saya diam lima belas menit tanpa sadar waktu, dan perasaan tenggelam yang tenang itu persis keadaan yang ingin saya bawa ke meja menulis.

Bedanya dengan game kompetitif, game lambat tidak meninggalkan adrenalin. Setelah satu sesi The Witness, saya bisa langsung membuka draf tanpa jantung berdebar. Setelah lima ronde Valorant, saya butuh sepuluh menit untuk "turun" dulu. Kalau kamu mencari pilihan yang lebih ringan untuk jeda, ada catatan terpisah soal game santai di sela revisi.

Ukur, jangan menebak

Satu hal yang saya bawa dari dunia game adalah kebiasaan melihat statistik. Pemain Valorant memeriksa rasio headshot, pemain Mobile Legends memeriksa KDA. Kenapa naskah tidak diperlakukan sama?

Selama enam minggu terakhir sebelum naskah dikirim ke penguji, saya mencatat tiga angka per hari: jumlah kata bersih yang bertahan sampai besok, jumlah perpindahan jendela per jam, dan jam tidur. Dari catatan itu terlihat pola yang tidak saya duga. Hari dengan sesi main di atas 90 menit tidak menurunkan jumlah kata keesokan harinya, asalkan saya tidur sebelum pukul 00.30. Yang benar benar merusak produktivitas adalah begadang, bukan gamenya.

Angka seperti ini membuat diskusi dengan diri sendiri lebih jujur. Daripada merasa bersalah setiap kali login, saya punya data untuk menilai mana kebiasaan yang perlu dipotong. Kalau kamu sedang menata ritme jelang hari ujian, tulisan tentang jadwal main menjelang sidang membahas bagian akhir perjalanan ini dengan lebih rinci.

Dari layar ke naskah yang siap dijilid

Fokus yang terlatih akhirnya diuji di tahap paling membosankan: memeriksa naskah final sebelum dicetak. Di sinilah kebiasaan "satu ronde satu tugas" paling membantu. Saya membagi pemeriksaan akhir menjadi tujuh ronde pendek, mulai dari nomor halaman, keterangan gambar, sampai konsistensi huruf miring untuk istilah asing. Tidak ada satu ronde pun yang lebih dari 30 menit.

Daftar yang lebih lengkap untuk tahap ini sudah ada di daftar periksa sebelum cetak. Dan kalau kamu ingin membaca sudut lain soal hubungan pemain dan naskah, kumpulan tulisan di kategori Games bisa jadi tempat mampir berikutnya, mungkin sambil menunggu antrean pertandingan selanjutnya.

BP
Bagas Pradipta

Bagas menyelesaikan tesisnya sambil tetap main game online hampir setiap malam. Ia menulis tentang video game dari sudut orang yang sedang dikejar tenggat, lengkap dengan kebiasaan yang berhasil dan yang tidak.

More posts by Bagas

More in Games